Mobil Listrik Murah vs Mobil Bensin: Mana Lebih Hemat?

Harga mobil listrik di Indonesia semakin menarik. Jika beberapa tahun lalu mobil listrik identik dengan harga ratusan juta rupiah hingga miliaran, sekarang pilihan yang lebih terjangkau mulai bermunculan.

Salah satu contohnya adalah Wuling New Air ev yang pada 2026 ditawarkan mulai sekitar Rp214 jutaan untuk varian tertentu. Wuling juga menghadirkan Aira ev dengan harga mulai sekitar Rp155 jutaan menurut daftar harga resminya.

Di sisi lain, mobil bensin masih menjadi pilihan utama banyak masyarakat karena SPBU mudah ditemukan, pilihan modelnya sangat banyak, dan teknologinya sudah dikenal sejak lama.

Lalu muncul pertanyaan penting: sebenarnya lebih hemat mana, mobil listrik murah atau mobil bensin?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana melihat harga pembelian.

Mobil listrik memang lebih hemat untuk biaya energi

Perbedaan paling terasa antara mobil listrik dan mobil bensin ada pada sumber tenaga.

Mobil bensin membutuhkan bahan bakar setiap kali digunakan. Sementara mobil listrik menggunakan energi listrik yang disimpan di dalam baterai.

Sebagai gambaran sederhana, misalnya sebuah mobil listrik membutuhkan sekitar 15 kWh untuk menempuh 100 kilometer.

Jika biaya listrik yang digunakan untuk pengisian berada di kisaran Rp1.500 per kWh, maka energi untuk perjalanan 100 kilometer sekitar:

15 kWh × Rp1.500 = Rp22.500

Angka sebenarnya bisa berbeda karena konsumsi energi dipengaruhi kecepatan, kondisi jalan, penggunaan AC, beban kendaraan, dan efisiensi masing-masing mobil.

Sekarang bandingkan dengan mobil bensin.

Misalnya mobil bensin memiliki konsumsi rata-rata 1 liter untuk 12 kilometer. Untuk menempuh 100 kilometer, kendaraan membutuhkan sekitar 8,3 liter bensin.

Jika harga bahan bakar yang digunakan misalnya Rp10.000 per liter, biaya energinya menjadi sekitar:

8,3 liter × Rp10.000 = Rp83.000

Dari contoh sederhana tersebut, biaya energi mobil listrik bisa jauh lebih rendah.

Namun perlu diingat, ini hanyalah simulasi, bukan angka biaya pasti untuk semua mobil. Konsumsi setiap kendaraan dan tarif energi yang digunakan pemilik bisa berbeda.

Kenapa mobil listrik bisa lebih irit?

Motor listrik memiliki karakter kerja yang berbeda dengan mesin pembakaran internal.

Motor listrik dapat menghasilkan torsi sejak putaran rendah. Sistem penggeraknya juga memiliki lebih sedikit komponen mekanis yang bergerak dibandingkan mesin bensin konvensional.

Selain itu, mobil listrik tidak membutuhkan proses pembakaran bahan bakar untuk menghasilkan tenaga.

Inilah salah satu alasan biaya energi per kilometer bisa lebih rendah.

Pengemudi yang setiap hari menempuh jarak cukup jauh akan lebih mudah merasakan perbedaan tersebut.

Misalnya seseorang berkendara rata-rata 40 kilometer per hari. Dalam sebulan, jaraknya bisa mencapai sekitar 1.200 kilometer.

Jika biaya energi mobil listrik jauh lebih rendah daripada mobil bensin, selisihnya dapat terkumpul menjadi penghematan yang cukup besar dalam setahun.

Tetapi jangan hanya menghitung biaya listrik dan bensin

Ini bagian yang sering terlupakan ketika membandingkan mobil listrik dengan mobil bensin.

Mobil bukan hanya membutuhkan energi untuk berjalan.

Ada biaya servis, ban, pajak, asuransi, depresiasi, hingga biaya tak terduga.

Mobil bensin memiliki mesin yang terdiri dari banyak komponen dan membutuhkan perawatan berkala. Oli mesin, filter oli, busi pada kendaraan tertentu, serta beberapa komponen lainnya perlu diperiksa atau diganti sesuai jadwal.

Mobil listrik tidak memiliki mesin pembakaran seperti mobil bensin sehingga beberapa kebutuhan perawatan rutin dapat berkurang.

Namun bukan berarti mobil listrik bebas biaya perawatan.

Ban tetap harus diganti ketika aus. Sistem rem tetap harus diperiksa. Suspensi, AC, wiper, cairan kendaraan, dan komponen lainnya juga tetap membutuhkan perhatian.

Baterai juga menjadi komponen penting yang harus diperhatikan karena harganya jauh lebih besar dibandingkan komponen servis rutin biasa.

Bagaimana dengan biaya servis?

Dalam penggunaan sehari-hari, mobil listrik memiliki keunggulan dari sisi jumlah komponen penggerak.

Tidak ada penggantian oli mesin karena memang tidak menggunakan mesin pembakaran.

Tidak ada busi seperti pada mesin bensin.

Tidak ada sistem knalpot yang perlu dirawat seperti pada mobil konvensional.

Namun, pemilik tetap harus mengikuti jadwal pemeriksaan yang diberikan pabrikan.

Jangan sampai karena merasa mobil listrik minim perawatan, kendaraan justru tidak pernah diperiksa.

Wuling sendiri menempatkan biaya perawatan rendah sebagai salah satu keunggulan kendaraan listriknya dan menyediakan fasilitas pengisian daya di rumah untuk sejumlah model EV.

Bagaimana jika mobil hanya dipakai sesekali?

Nah, di sinilah jawabannya bisa berbeda.

Jika mobil hanya digunakan sesekali, misalnya beberapa kali dalam seminggu untuk perjalanan dekat, penghematan energi mobil listrik mungkin tidak langsung terasa besar.

Mengapa?

Karena Anda tetap mengeluarkan biaya untuk membeli mobil, membayar pajak, asuransi, parkir, dan biaya kepemilikan lainnya.

Sementara itu, mobil bensin memberikan fleksibilitas yang sangat tinggi. Ketika ingin melakukan perjalanan jauh, tinggal mengisi bahan bakar dan melanjutkan perjalanan.

Jadi, semakin sering mobil digunakan, semakin besar peluang penghematan biaya energi mobil listrik terasa.

Bagaimana dengan perjalanan jauh?

Untuk perjalanan dalam kota, mobil listrik cukup menarik.

Pengguna bisa mengisi daya di rumah dan memulai perjalanan dengan baterai yang sudah terisi.

Tetapi untuk perjalanan jauh, perencanaan menjadi lebih penting.

Pengemudi harus memperhatikan lokasi stasiun pengisian kendaraan listrik, waktu pengisian, kondisi baterai, dan rute perjalanan.

Mobil bensin masih memiliki keunggulan dalam hal fleksibilitas karena SPBU jauh lebih mudah ditemukan di berbagai wilayah.

Karena itu, orang yang sering melakukan perjalanan antarkota dan tidak ingin memikirkan lokasi charging mungkin masih merasa mobil bensin lebih praktis.

Mobil listrik murah belum tentu paling murah untuk semua orang

Ini poin yang sangat penting.

Jangan hanya melihat tulisan “mobil listrik mulai Rp100 jutaan atau Rp200 jutaan”, kemudian langsung menyimpulkan bahwa kendaraan tersebut pasti paling hemat.

Pertimbangkan kebutuhan Anda.

Apakah mobil digunakan setiap hari?

Berapa kilometer jarak tempuh dalam sebulan?

Apakah tersedia tempat untuk melakukan charging di rumah?

Apakah listrik rumah memadai untuk kebutuhan pengisian?

Apakah sering bepergian ke luar kota?

Bagaimana dengan layanan servis dan jaringan dealer di daerah Anda?

Semua pertanyaan tersebut akan menentukan apakah mobil listrik benar-benar cocok.

Contoh sederhana untuk pengguna harian

Misalnya Anda menggunakan mobil untuk perjalanan 1.500 kilometer setiap bulan.

Mobil listrik dengan konsumsi 15 kWh/100 km membutuhkan sekitar 225 kWh energi per bulan.

Sementara mobil bensin dengan konsumsi 12 km/liter membutuhkan sekitar 125 liter bensin untuk jarak yang sama.

Jika harga energi yang digunakan sesuai dengan asumsi masing-masing, perbedaan biaya operasional bisa cukup besar.

Namun penghematan tersebut harus dibandingkan dengan harga kendaraan, cicilan, biaya instalasi atau penggunaan charging, pajak, perawatan, dan depresiasi.

Jadi jangan hanya bertanya:

“Mana yang lebih irit?”

Pertanyaan yang lebih tepat adalah:

“Mana yang lebih murah untuk kebutuhan saya selama beberapa tahun?”

Mobil bensin masih punya keunggulan

Meskipun mobil listrik semakin menarik, bukan berarti mobil bensin sudah tidak layak dibeli.

Mobil bensin masih unggul dalam beberapa hal.

Pertama, pilihan modelnya sangat banyak.

Kedua, jaringan bengkel dan SPBU sudah tersebar luas.

Ketiga, perjalanan jauh relatif mudah tanpa perlu merencanakan pengisian energi secara khusus.

Keempat, pasar mobil bekasnya sudah terbentuk selama bertahun-tahun.

Bagi masyarakat yang membutuhkan mobil serbaguna untuk perjalanan dalam kota sekaligus luar kota, mobil bensin masih menjadi pilihan yang masuk akal.

Jadi, mana yang lebih hemat?

Kalau hanya membandingkan biaya energi per kilometer dan sejumlah perawatan rutin, mobil listrik memiliki peluang besar untuk lebih hemat.

Namun jika menghitung seluruh biaya kepemilikan, jawabannya bisa berbeda untuk setiap orang.

Mobil listrik lebih menarik bagi pengguna yang:

  • sering menggunakan mobil setiap hari
  • banyak berkendara di dalam kota
  • memiliki akses charging di rumah
  • ingin mengurangi biaya energi
  • tidak terlalu sering melakukan perjalanan jauh

Sementara mobil bensin lebih cocok bagi pengguna yang:

  • sering bepergian ke luar kota
  • membutuhkan fleksibilitas tinggi
  • belum memiliki fasilitas charging di rumah
  • ingin pilihan kendaraan yang lebih beragam
  • mengutamakan kemudahan pengisian bahan bakar

Jadi, mobil listrik murah memang bisa lebih hemat, tetapi bukan berarti otomatis menjadi pilihan terbaik untuk semua orang.

Yang paling penting bukan hanya melihat harga mobil saat membeli, melainkan menghitung berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menggunakannya setiap bulan dan selama beberapa tahun.

Dengan cara tersebut, Anda tidak hanya membeli mobil yang terlihat murah di awal, tetapi benar-benar memilih kendaraan yang paling sesuai dengan kondisi keuangan dan kebutuhan sehari-hari.