Motor Listrik Cocok untuk Ojol dan Usaha? Ini yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Membeli

Motor listrik semakin mudah ditemui di jalanan. Bentuknya pun sudah semakin beragam, mulai dari motor kecil untuk perjalanan dalam kota hingga model yang tampilannya mirip motor konvensional.

Bagi pengguna pribadi, motor listrik bisa menjadi pilihan menarik untuk aktivitas sehari-hari. Namun bagaimana jika motor tersebut digunakan untuk ojek online (ojol), mengantar barang, berdagang, atau menjalankan usaha?

Pertanyaan tersebut cukup penting karena kendaraan untuk usaha memiliki kebutuhan yang berbeda. Motor bukan hanya digunakan untuk pergi dan pulang, tetapi bisa bekerja selama berjam-jam dalam sehari.

Biaya listrik yang murah memang terdengar menarik. Tetapi sebelum membeli, ada beberapa hal yang harus diperhitungkan.

Motor listrik menarik untuk usaha karena biaya energi lebih rendah

Salah satu alasan utama orang mempertimbangkan motor listrik untuk usaha adalah biaya energi.

Motor bensin membutuhkan bahan bakar setiap kali digunakan. Semakin jauh jarak perjalanan dalam sehari, semakin besar pula uang yang harus dikeluarkan.

Motor listrik menggunakan energi dari baterai. Jika pengisian dilakukan di rumah dengan tarif listrik yang sesuai, biaya energi per kilometer pada banyak kondisi bisa lebih rendah dibandingkan bahan bakar bensin.

Sebagai contoh sederhana, anggap sebuah motor listrik membutuhkan sekitar 3 kWh untuk menempuh 100 kilometer.

Jika biaya listrik yang digunakan sekitar Rp1.500 per kWh, maka energi untuk menempuh 100 kilometer sekitar:

3 × Rp1.500 = Rp4.500

Bandingkan dengan motor bensin yang misalnya memiliki konsumsi 45 kilometer per liter.

Untuk menempuh 100 kilometer, motor tersebut membutuhkan sekitar 2,2 liter bensin.

Jika harga bensin yang digunakan Rp10.000 per liter, biayanya sekitar:

2,2 × Rp10.000 = Rp22.000

Ini hanya contoh simulasi. Konsumsi setiap motor, kondisi jalan, berat pengendara, beban barang, kecepatan, dan tarif energi dapat membuat hasil sebenarnya berbeda.

Namun dari contoh tersebut terlihat bahwa selisih biaya energi bisa cukup besar ketika kendaraan digunakan dengan jarak tempuh tinggi.

Semakin sering dipakai, potensi hemat semakin terasa

Bagi pengguna pribadi, perbedaan biaya energi mungkin tidak terlalu terasa jika motor hanya digunakan beberapa kilometer setiap hari.

Kondisinya berbeda dengan ojol atau kendaraan usaha.

Bayangkan motor digunakan sejauh 100 kilometer sehari. Dalam 26 hari kerja, jaraknya bisa mencapai sekitar 2.600 kilometer.

Jika biaya energi per kilometer motor listrik lebih rendah, selisihnya bisa menjadi cukup berarti dalam satu bulan.

Bagi pelaku usaha, angka tersebut penting karena biaya transportasi secara langsung memengaruhi keuntungan.

Misalnya pengeluaran untuk kendaraan dapat dikurangi Rp200.000–Rp300.000 per bulan, maka dalam satu tahun jumlahnya sudah menjadi beberapa juta rupiah.

Tetapi tentu saja penghematan tersebut harus dibandingkan dengan biaya pembelian motor, perawatan, baterai, dan kebutuhan lainnya.


Bagaimana dengan baterainya?

Inilah salah satu bagian terpenting yang harus diperhatikan calon pembeli motor listrik.

Baterai merupakan komponen utama kendaraan listrik. Kondisinya sangat berpengaruh terhadap jarak tempuh dan kemampuan motor digunakan sehari-hari.

Untuk penggunaan pribadi, kapasitas baterai mungkin sudah mencukupi.

Namun untuk ojol atau usaha, kebutuhan energinya jauh lebih besar.

Jika motor digunakan dari pagi sampai malam, pengguna harus mengetahui dengan jelas berapa jarak tempuh realistis dalam satu kali pengisian.

Jangan hanya melihat angka jarak tempuh yang tercantum dalam brosur.

Angka tersebut dapat berbeda dengan kondisi penggunaan sebenarnya.

Penggunaan dengan kecepatan tinggi, membawa beban berat, melewati tanjakan, sering berhenti dan berakselerasi, serta penggunaan lampu dan aksesori dapat memengaruhi konsumsi energi.

Karena itu, sebelum membeli, lebih baik menghitung kebutuhan berdasarkan aktivitas sehari-hari.

Charging menjadi faktor penting bagi ojol

Motor listrik sangat menarik jika pengguna memiliki tempat pengisian daya yang mudah.

Misalnya motor digunakan untuk bekerja pada siang hari dan dapat diisi ulang pada malam hari di rumah.

Namun masalah bisa muncul jika motor digunakan terus-menerus dan baterai habis sebelum pekerjaan selesai.

Pengemudi harus mengetahui apakah terdapat fasilitas pengisian yang mudah dijangkau di sekitar wilayah kerjanya.

Waktu pengisian juga perlu diperhitungkan.

Motor bensin dapat kembali bekerja hanya beberapa menit setelah mengisi bahan bakar. Motor listrik membutuhkan waktu pengisian yang bergantung pada kapasitas baterai dan teknologi charger yang digunakan.

Bagi ojol, waktu merupakan uang.

Jika kendaraan berhenti terlalu lama hanya karena menunggu baterai terisi, potensi pendapatan juga bisa ikut berkurang.

Apakah motor listrik cocok untuk mengantar barang?

Untuk usaha pengiriman barang dalam kota, motor listrik cukup menarik.

Misalnya digunakan untuk:

  • mengantar makanan
  • mengirim dokumen
  • mengantar barang toko online
  • kebutuhan operasional toko
  • mengantar pesanan pelanggan
  • perjalanan antar-cabang dalam satu kota

Jenis pekerjaan seperti ini biasanya memiliki rute yang relatif pendek dan berulang.

Pengguna juga dapat mengatur waktu pengisian ketika motor tidak sedang digunakan.

Namun kapasitas angkut harus diperhatikan.

Jangan memilih motor hanya karena harganya murah. Perhatikan kemampuan membawa pengendara dan barang, ukuran ruang penyimpanan, kestabilan kendaraan, kapasitas baterai, serta kemampuan motor menghadapi tanjakan.

Motor listrik juga memiliki perawatan yang berbeda

Keunggulan lain motor listrik adalah sistem penggeraknya relatif sederhana dibandingkan mesin pembakaran internal.

Motor bensin memiliki mesin, oli mesin, busi, sistem pembakaran, saluran bahan bakar, dan berbagai komponen lain yang harus dirawat.

Motor listrik tidak menggunakan mesin pembakaran seperti motor bensin.

Namun bukan berarti motor listrik tidak membutuhkan servis.

Ban tetap dapat aus.

Kampas rem tetap perlu diperiksa.

Suspensi tetap membutuhkan perhatian.

Bearing, sistem kelistrikan, konektor, charger, dan komponen lainnya juga harus diperiksa sesuai kebutuhan.

Jadi, istilah “motor listrik bebas perawatan” sebaiknya jangan dipahami secara harfiah.

Yang lebih tepat adalah kebutuhan perawatannya berbeda dan beberapa pekerjaan rutin pada motor bensin tidak diperlukan.

Bagaimana jika digunakan untuk ojol setiap hari?

Untuk ojol, motor listrik bisa menjadi pilihan menarik apabila tiga kondisi terpenuhi.

Pertama, jarak tempuh harian sesuai dengan kemampuan baterai.

Kedua, tersedia fasilitas charging yang praktis.

Ketiga, jaringan servis dan suku cadang mudah dijangkau.

Jika ketiga hal tersebut terpenuhi, motor listrik berpotensi membantu menekan biaya operasional.

Tetapi jika pengemudi sering mendapatkan order jarak jauh dan tidak memiliki kesempatan mengisi daya, motor bensin mungkin masih terasa lebih praktis.

Jadi tidak ada jawaban bahwa motor listrik selalu lebih baik.

Semuanya kembali pada pola kerja masing-masing pengemudi.

Jangan lupa menghitung harga baterai

Sebelum membeli motor listrik untuk usaha, tanyakan kepada dealer mengenai baterai.

Apakah baterainya dimiliki sendiri?

Apakah menggunakan sistem sewa?

Berapa masa garansinya?

Berapa lama waktu pengisian?

Berapa biaya penggantian jika suatu saat kapasitas baterai sudah menurun?

Pertanyaan tersebut sangat penting karena baterai merupakan salah satu komponen bernilai tinggi pada kendaraan listrik.

Jangan sampai calon pembeli hanya menghitung biaya listrik, tetapi lupa memasukkan biaya jangka panjang.

Motor listrik atau bensin untuk usaha?

Kalau usaha Anda memiliki rute pendek dan relatif teratur, motor listrik layak dipertimbangkan.

Motor listrik bisa menarik untuk pengguna yang:

✓ Berkendara setiap hari

✓ Banyak beraktivitas di dalam kota

✓ Memiliki tempat charging

✓ Ingin menekan biaya energi

✓ Tidak sering melakukan perjalanan sangat jauh

Sementara motor bensin masih lebih menarik bagi pengguna yang:

✓ Sering melakukan perjalanan jauh

✓ Membutuhkan pengisian energi dengan cepat

✓ Tidak memiliki tempat charging

✓ Bekerja dengan rute yang berubah-ubah

✓ Membutuhkan jaringan bengkel dan SPBU yang sangat luas

Jangan membeli hanya karena terlihat lebih murah

Bagi pelaku usaha, kendaraan seharusnya dilihat sebagai alat produksi, bukan sekadar kendaraan.

Motor yang murah tetapi sering berhenti karena baterai habis tentu tidak menguntungkan.

Sebaliknya, motor yang sedikit lebih mahal tetapi mampu memenuhi kebutuhan kerja setiap hari bisa menjadi pilihan yang lebih masuk akal.

Karena itu, sebelum membeli motor listrik untuk ojol atau usaha, coba catat terlebih dahulu jarak perjalanan selama satu minggu.

Hitung berapa kilometer yang ditempuh setiap hari.

Kemudian hitung biaya bensin atau listrik, waktu pengisian, biaya servis, serta kemungkinan biaya baterai dalam jangka panjang.

Dari sana, keputusan akan jauh lebih mudah.

Kesimpulan

Motor listrik bisa sangat cocok untuk ojol dan usaha, tetapi tidak untuk semua jenis pekerjaan.

Keunggulan paling menarik adalah potensi biaya energi yang lebih rendah dan sistem perawatan yang berbeda dari motor bensin.

Namun pengguna harus mempertimbangkan jarak tempuh, kapasitas baterai, waktu charging, beban barang, ketersediaan servis, dan biaya kepemilikan jangka panjang.

Untuk usaha dengan rute dalam kota dan jarak yang relatif teratur, motor listrik bisa menjadi alat transportasi yang menarik untuk menghemat biaya operasional.

Tetapi bagi pengemudi yang membutuhkan fleksibilitas tinggi, sering bepergian jauh, atau bekerja tanpa akses charging yang mudah, motor bensin masih memiliki keunggulan tersendiri.

Jadi, pertanyaan terbaik bukan “motor listrik atau motor bensin lebih bagus?”

Pertanyaan yang lebih tepat adalah:

“Motor mana yang paling mampu membuat usaha saya tetap berjalan dan menghasilkan keuntungan?”